Tabayyun.co.id, GORONTALO UTARA – Kisah keretakan rumah tangga kembali mencuat di Kecamatan Atinggola. Seorang perempuan mengungkap dugaan perselingkuhan yang diduga dilakukan suaminya berinisial YB, seorang aparatur sipil negara (ASN) yang juga berprofesi sebagai guru di SDN 5 Atinggola.
Tak hanya menyoroti dugaan hubungan terlarang, perempuan tersebut juga mengaku harus menanggung beban ekonomi keluarga seorang diri. Ia menyebut kebutuhan rumah tangga kerap tidak terpenuhi, meskipun suaminya memiliki penghasilan tetap.
Kecurigaan, menurutnya, bermula dari perubahan aktivitas suami yang semakin sering pulang larut dengan alasan pekerjaan sekolah.
“Saya curiga sejak dia sering pulang malam dengan alasan kegiatan sekolah. Tapi lama-lama itu tidak masuk akal,” ungkapnya Jumat 10/04/26.
Ia kemudian menelusuri informasi yang berkembang dan menduga adanya kedekatan antara suaminya dengan seorang perempuan berinisial SI, yang berstatus guru agama PPPK di sekolah SDN 7 Atinggola.
Menurutnya, interaksi intens dalam berbagai kegiatan pendidikan, mulai dari agenda siswa hingga rapat sekolah, menjadi awal komunikasi yang semakin dekat di luar urusan pekerjaan.
Kecurigaan tersebut semakin menguat setelah ia menemukan indikasi komunikasi pribadi di antara keduanya. Ia bahkan mengaku memiliki sejumlah bukti yang mengarah pada kedekatan tersebut.
“Saya pernah lihat bukti-bukti, ada foto dan komunikasi mereka. Bahkan anak saya juga pernah lihat langsung,” katanya.
Selain itu, ia juga menerima cerita dari anaknya yang mengaku melihat kebersamaan ayahnya dengan perempuan tersebut di luar aktivitas sekolah.
Seiring waktu, ia menilai sikap suaminya berubah drastis. Suami menjadi lebih tertutup, jarang berada di rumah, serta dinilai tidak lagi memberikan perhatian kepada keluarga.
Perempuan tersebut mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil karena suaminya dianggap tidak menunjukkan niat memperbaiki hubungan.
Tekanan sosial juga turut dirasakan akibat isu yang berkembang di lingkungan sekitar. Ia merasa menjadi pihak yang paling dirugikan, baik secara emosional maupun sosial.
Ia juga mengungkapkan bahwa dugaan tersebut sempat disampaikan kepada pihak sekolah, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
Meski menghadapi berbagai tekanan, ia mengaku masih berusaha mempertahankan rumah tangganya demi anak-anak.
“Saya bertahan ini demi anak-anak. Tapi dia juga tidak peduli, lebih banyak diluar daripada dirumah,” tutup korban.
Hingga berita ini diturunkan, pihak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada yang bersangkutan, namun belum mendapatkan tanggapan. Media juga membuka ruang hak jawab bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi.













