TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Upaya menjaga keberlangsungan kerajinan Karawo di Gorontalo mulai diarahkan kepada generasi muda.
Salah satunya melalui Mokarawo Kolosal yang melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Gorontalo Karnaval Karawo dan HARFEST 2026 yang digelar di Grand Palace Convention Center (GPCC), Sabtu (12/9/2026).
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Dr. Ir. Sultan Kalupe, S.T., M.T., mengatakan kegiatan tersebut mempertemukan siswa dengan para pengrajin Karawo secara langsung.
Sebanyak 500 siswa SMA dan SMK se-Provinsi Gorontalo disebut mengikuti kegiatan tersebut bersama 200 pengrajin Karawo.
Sultan mengatakan Mokarawo Kolosal tidak hanya ditujukan sebagai kegiatan pendukung festival.
Lebih jauh, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya regenerasi pengrajin Karawo yang selama ini didominasi kelompok usia lanjut.
“Jadi sebagai salah satu rangkaian dari Gorontalo Karnaval Karawo dan Harfest, tadi pagi sudah dilaksanakan Mokarawo kolosal yang diikuti siswa sebanyak 500 siswa,” ucap Sultan.
“Bahkan, ada yang dari TK,” tambah Sultan.
Menurut Sultan, keterlibatan pelajar sejak usia dini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap Karawo sekaligus membuka perspektif bahwa kerajinan tradisional tersebut memiliki peluang ekonomi.
Regenerasi menjadi penting karena keberlangsungan Karawo tidak hanya bergantung pada keberadaan produk, tetapi juga pada tersedianya generasi yang mampu meneruskan keterampilan menyulam tersebut.
Dalam rangkaian GKK 2026, Dinas Pariwisata juga menghadirkan inovasi lain berupa pertunjukan musik kolosal.
Musik tradisional Polopalo, Gambusi dan Rebana akan dilibatkan dalam pertunjukan yang juga diharapkan memperluas ruang partisipasi bagi pelajar.
Selain agenda karnaval, rangkaian kegiatan juga dilanjutkan dengan peresmian Desa Kreatif di Telaga.
Desa tersebut diarahkan sebagai sentra ekonomi kreatif berbasis kerajinan, dengan produk seperti anyaman rotan dan eceng gondok.
Sultan menyebut program Desa Kreatif merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Ia mengatakan pengembangan desa kreatif akan terus diperluas. Tahun sebelumnya, Desa Kreatif Tanggilingo telah diarahkan sebagai sentra pembuatan kue Karawo.
Untuk tahun berikutnya, pemerintah daerah menargetkan pengembangan desa kreatif dengan basis kerajinan lain, termasuk kerajinan Karawo dan Karanji.

Sultan berharap pelajar yang telah mengikuti Mokarawo Kolosal tidak berhenti pada kegiatan festival.
Para siswa didorong untuk terus berlatih sehingga keterampilan tersebut dapat menjadi bekal sekaligus peluang usaha ketika mereka menyelesaikan pendidikan.
Bagi pemerintah daerah, regenerasi pengrajin menjadi salah satu kunci agar Karawo tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Dengan melibatkan siswa sejak tingkat TK hingga SMA, tradisi menyulam Karawo diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari industri kreatif dan peluang bisnis generasi muda Gorontalo.













