Busroni dan Harapan Tentang Polisi yang Baik

Oleh: Guslan Latarawe (Ketua SMSI Pohuwato)

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Di mata sebagian orang, kantor polisi adalah tempat untuk mengurus perkara. Tempat orang datang ketika ada masalah. Tempat yang sering kali menghadirkan rasa cemas.

Namun, di bawah kepemimpinan AKBP Busroni, S.I.K., M.H., Polres Pohuwato perlahan mencoba mengubah makna itu. Kantor polisi bukan hanya menjadi tempat menegakkan hukum, tetapi juga menjadi ruang dengan pintu yang selalu terbuka untuk masyarakat.

Mungkin karena itulah lapangan Polres Pohuwato kini bisa digunakan warga untuk menggelar pesta pernikahan secara gratis. Terdengar sederhana. Tetapi di balik kebijakan itu tersimpan pesan besar: polisi tidak boleh berjarak dengan rakyat.

Sejak dipercaya memimpin Polres Pohuwato pada Maret 2025, lulusan Akademi Kepolisian tahun 2005 itu memang datang bukan dengan banyak pidato. Ia memilih bekerja. Membiarkan hasil yang berbicara.

Di satu sisi, ia juga dikenal lembut dalam bergaul. Murah senyum. Tidak membangun sekat dengan masyarakat. Tetapi ketika berbicara soal hukum, ia menunjukkan wajah yang berbeda.

Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) misalnya. Persoalan yang bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah di Pohuwato, menjadi salah satu fokus utamanya.

Baca Juga :  Dilaporkan ke KPK oleh BSG, Pemkot : Lucu melihat tingkah BSG

Di bawah komando Busroni, lebih dari 20 unit excavator berhasil diamankan. Ratusan barang bukti lain turut disita. Berbagai perkara diproses hingga ke pengadilan sebagai bentuk keseriusan penegakan hukum.

Busroni tidak pernah mengklaim semuanya telah selesai. Ia justru mengakui bahwa penanganan PETI masih menghadapi banyak keterbatasan. Personel yang terbatas dan medan yang sulit menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Kejujuran itu justru menunjukkan bahwa membangun supremasi hukum bukan pekerjaan yang selesai dalam semalam. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.

Tetapi, jika ketegasan adalah satu sisi kepemimpinan Busroni, maka kepedulian adalah sisi lainnya.

Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, Busroni tidak hanya menyiapkan upacara. Ia menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat. Turnamen sepak bola dan bola voli digelar, bedah rumah untuk kaum dhuafa dilaksanakan, jalan sehat diselenggarakan, berbagai hadiah dibagikan, hingga hadiah utama berupa paket umrah gratis hasil kolaborasi dengan Baznas Pohuwato.

Puncaknya, pada 1 Juli 2026, usai upacara Hari Bhayangkara, halaman Polres Pohuwato berubah menjadi ruang kebersamaan. Pesta rakyat digelar malam harinya.

Baca Juga :  El Rumi Kalahkan Jefri Nichol dalam Waktu 38 Detik

Dalam benaknya, ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebagai ungkapan bahwa, kepolisian dan masyarakat seharusnya dapat bergembira dalam satu kebersamaan.

Barangkali, bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah perayaan. Tetapi sesungguhnya ada pesan yang sedang dibangun. Bahwa institusi kepolisian tidak hanya hadir ketika masyarakat mengalami musibah atau berurusan dengan hukum. Polisi juga harus hadir dalam kebahagiaan rakyatnya.

Kedekatan Busroni dengan masyarakat juga terlihat dari kebiasaannya melaksanakan salat Jumat keliling. Dari satu masjid ke masjid lainnya.

Bukan sekadar memenuhi agenda seremonial, tetapi untuk menyapa, mendengar, dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat. Hampir seluruh masjid di Kabupaten Pohuwato telah ia datangi.

Semua itu bermuara pada satu gagasan yang sederhana. Mopiyohu, yang dalam bahasa Gorontalo, kata itu berarti baik.

Bagi Busroni, polisi harus menjadi orang baik sebelum menjadi aparat yang hebat. Karena itu lahirlah slogan Polisi Mopiyohu.

Bukan sekadar kalimat yang dipasang di spanduk atau baliho. Melainkan nilai yang ingin ditanamkan kepada seluruh personel.

Baca Juga :  Real Madrid Siapkan Tawaran Baru untuk William Saliba, Apakah Arsenal akan Tergoda?

Bahwa setiap anggota Polri harus menjadi penolong harus menjadi pelindung, harus menjadi pengayom.

Kalau belum mampu membantu masyarakat, setidaknya jangan sampai menjadi beban bagi mereka.

Kalimat yang paling sering ia sampaikan kepada anggotanya sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.

“Polisi adalah penolong masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Kalau tidak bisa menolong, ya jangan merepotkan masyarakat,” ujar Busroni kala itu.

Mungkin memang begitulah wajah kepemimpinan yang diinginkannya. Tidak mencari tepuk tangan. Tidak mengejar pujian. Cukup memastikan bahwa masyarakat merasakan kehadiran polisi sebagai sahabat.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak akan selalu mengingat berapa banyak operasi yang dilakukan seorang pemimpin. Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana pemimpin itu membuat mereka merasa dihargai. Dan di Pohuwato, nama itu perlahan menjadi harapan.

AKBP Busroni, S.I.K., M.H. Seorang Kapolres yang ingin membuktikan bahwa ketegasan dan kebaikan tidak pernah harus dipertentangkan.

Sebab menjadi Polisi Mopiyohu bukan sekadar slogan. Mopiyohu bagi Busroni adalah sebaik-baik mengabdi untuk masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *